Kementan Blacklist 1.757 Jenis Pestisida

BY: HENDRI ON APRIL 6, 2019

globalaktual.com, Pekalongan – Kementerian Pertanian telah secara ketat melakukan pengawasan terhadap peredaran pestisida dengan melakukan pencabutan izin. Dari datanya, terdapat 1.757 jenis formulasi pestisida yang dicabut izinnya hingga 2018 lalu.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhi dalam tinjauannya ke Brebes, Jumat (5/4). “Jumlah itu, terdiri 956 jenis yang izinnya habis hingga 2017, 610 jenis habis izinnya pada 2018 dan 191 jenis dicabut atas permintaan sendiri produsen karena tidak efektif dan banyak dipalsukan. Saat ini masih ada 4.437 jenis pestisida yang terdaftar di kementerian,” ungkapnya.

Ia menilai kondisi lahan pertanian di Kabupaten Brebes mulai rusak. Hal tersebut diduga lantaran penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi yang berlebihan. Apalagi, jika yang digunakan adalah produk palsu yang mulai marak beredar. “Hasil penelitian IPB (Institut Pertanian Bogor) lahan pertanian di Brebes sudah mulai usang. Ini dikarenakan terlalu banyak terpapar residu pestisida. Hasil pertaniannya turun, bukannya naik,” kata Sarwo Edhi,

Tidak hanya itu saja, katanya, penggunaan pestisida palsu yang akan berdampak pada hasil pertanian. Sebahgian besar, lahan yang menggunakan pestisida palsu bukannya membunuh hama tanaman yang menyerang akan tetapi justru memicu pertumbuhan organisme pengganggu tanaman (OPT) lainnya.

Sarwo Edhi mengungkapkan, Brebes merupakan salah satu daerah yang merupakan sentra hortikultura dan sentra tanaman pangan yang menungjang kebutuhan nasional. Sebagai daerah sentra, tidak dipungkiri Brebes menjadi sasaran peredaran pupuk dan pestisida palsu atau ilegal. “Indikator Brebes menjadi daerah peredaran pestisida palsu karena pengugnaanny pestisida di Brebes sangat banyak. Jadi rentan,” paparnya.

Ditambahkannya, penyebab beredarnya pestisida palsu salah satunya harga pestisida yang tinggi namun masih laku dipasaran karena dibutuhkan. Di antaranya berbagai merek yang sudah beredar di Brebes.

Lebih jauh Sarwo Edhi meminta kepada pihak kepolisian agar mengusut tuntas kasus peredaran pestisida palsu di Brebes. Ia meminta agar tidak hanya pengedar saja yang ditangkap, tetapi juga pembuatnya.

Untuk langkah nasional, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Mabes Polri dan Satgas Pangan untuk mengungkap peredaran pestisida palsu di daerah lain. Ia menduga, kasus serupa juga terjadi di daerah lain, hanya saja belum terungkap. “Pemerintah juga harus turun tangkan. Melakukan intelejen-intelejen ke kios-kios yang menjual pupuk dan pestisida. Jika ada indikasi (pemalsuan) segera laporkan,” tegasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, masyarakat juga harus diberi pemahaman mengenai penggunaan pestisida. Termasuk juga terhadap kaleng bekas pestisida yang sudah terpakai. “Kaleng atau botol bekas harus dihancurkan. Ini sebagai salah satu langkah pencegahan peredaran pestisida palsu,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Bupati Brebes, Narjo. Dia meminta pihak kepolisian agar menangkap pembuat pestisida palsu yang selama ini beredar di Brebes. Jika hanya pengedarnya saja yang ditangkap, maka permasalahan ini tidak akan pernah selesai. “Jangan hanya pengedarnya saja, tapi pembuatnya juga harus ditangkap. Jadi dalam hal ini kita dukung kepolisian dalam memberntas peredaran pestisida palsu,” ucapnya.

Sementara itu, perwakilan Reskrim Polres Brebes, Kanit Tipiter Iptu Tumia menyampaikan, dari pengungkapan kasus peredaran pestisida palsu yang dilakukan jajaran Polres Brebes, saat ini masih terus dilakukan pengembangan. Bahkan, pestisida palsu yang didapat pun bertambah menjadi sekitar 1.500 botol pestisida cair dan serbuk dari sebelumnya 1.031 botol. “Masih banyak indikasi peredaran pestisida palsu di Brebes. Jadi kita masih lakukan penindaklanjutan kasus ini,” pungkasnya. (Hendri)

Related posts

Leave a Comment