Wakil Bupati Pekalongan Pompa Semangat Perempuan Agar Lebih Berkiprah di Ranah Publik

globalaktual.com, KAJEN – Kaum perempuan di pedesaan selama ini masih termarginalkan. Perempuan dinilai sebagai sosok yang lemah, emosional, dan kurang rasional. Padahal, stigma tersebut tidak benar. Kaum perempuan pun bisa berkiprah sebagai pelaku pembangunan, termasuk menjadi seorang pemimpin.

Untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia perempuan, perempuan mampu berkiprah di berbagai aspek kehidupan dan semakin maju dalam kepemimpinan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI menggelar kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Pedesaan di Kabupaten Pekalongan di Hotel Santika Pekalongan, Jumat (12/4)-Sabtu (13/4). Pelatihan ini diikuti 60 perempuan dari Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang.

Wakil Bupati Pekalongan Arini Harimurti pada kesempatan itu memompa semangat perempuan untuk lebih berkiprah di ranah publik, dan membeberkan kunci kesuksesan seorang perempuan. Arini menyatakan, peraturan perundangan memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki maupun perempuan untuk berperan di dalam pembangunan. Bahkan, lanjut dia, perempuan diberi kelonggaran-kelonggaran. Ia mencontohkan, calon legislatif dipersyaratkan 30 persen harus perempuan, dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) pun diharapkan minimal satu orang adalah perempuan.

“Saya ajak mari kita gunakan kesempatan yang telah diberikan oleh pemerintah ini. Kenapa pemerintah beri kelonggaran, karena selama ini pemerintah melihat kita sebagai perempuan khususnya di pedesaan masih seringkali termarginalkan. Kadang-kadang mereka memandang perempuan ini terlalu lemah, perempuan itu katanya emosional, kurang rasional, padahal kan tidak seperti itu. Kita sama dengan laki-laki sebagai subjek pembangunan, sebagai pelaksana pembangunan. Ada juga resistensi maskulinitas. Bapak-bapak ada resistensi apabila ibu-ibu memasuki ranah publik, karena biasanya perempuan di ranah domestik. Apabila perempuan pindah ke ranah publik kadang-kadang timbul resistensi dari bapak-bapak,” katanya.

Oleh karena itu, ujar Wabup, pemerintah memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk berkiprah. Ia pun mengajak kaum perempuan untuk menggunakan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Namun, kata dia, kesempatan yang diberikan pemerintah ini tidak akan berjalan terus-menerus. Sehingga Arini berpesan agar kaum perempuan jangan mengharapkan atau bergantung kepada aturan yang melonggarkan perempuan.

“Perempuan harus berusaha meningkatkan kompetensi dirinya, termasuk kegiatan hari ini adalah kesempatan kita untuk belajar. Manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan diri agar kita mampu berkiprah di ranah publik, tidak hanya di tingkat desa tapi jika bisa menjadi pemimpin di daerah,” ujarnya.

Arini pun mengungkapkan saat dirinya diminta untuk mendampingi Bupati Pekalongan sebagai calon wakil bupati pada Pilkada sempat muncul ketidakpercayaan diri pada dirinya. Padahal, segudang pengalaman kerja dan prestasi sebagai PNS diraih, seperti pernah menjabat sebagai Plt kepala dinas dan pimpinan proyek. Rasa tidak percaya dirinya itu hilang tatkala ia tersentuh melihat penderitaan masyarakat di Desa Tegaldowo, Kecamatan Tirto, yang merupakan tempat tinggal suaminya (mantan bupati Amat Antono). Ia bertekad ingin mengentaskan penderitaan masyarakat yang menjadi korban rob.

“Ketidakpercayaan diri saya kalah dengan angan-angan saya, keinginan saya untuk membantu sesama. Oleh karena itu, apabila panjenengan semua mungkin masih ragu tancapkan satu angan-angan yang harus kita gantungkan. Saya ingin apa di tingkat desa, atau lebih tinggi lagi ingin apa di tingkat kabupaten. Alhamdulillah mungkin karena cita-cita yang ikhlas. Alhamdulillah dengan segala kekuatan, saya punya jejaring di Jakarta, semua saya dekati untuk mengentaskan masyarakat dari rob,” katanya.

Disebutkan, perempuan itu terkadang takut memasuki ranah publik karena terpikirkan terus bagaimana untuk membagi waktu dengan anak-anaknya. Menurutnya, waktu dengan anak tidak semata tergantung pada berapa lamanya bertemu, tapi tergantung pada kualitas pertemuan orang tua dengan anak-anaknya. Kunci kesuksesan sendiri, lanjut Arini, pertama tentukan skala prioritas setiap kali akan bertindak. Setelah menentukan skala prioritas maka harus fokus, dan disiplin, apakah disiplin waktu, disiplin di dalam mentaati aturan, atau disiplin di dalam prosedur.

“Untuk sukses bukan ditentukan oleh tingkat kehadiran di acara ini, atau sertifikat yang ibu-ibu terima pada hari ini, tetapi yang lebih penting adalah output dari acara ini, yakni kiprah-kiprah ibu semua di masyarakat. Jika kegiatan ini tidak meningkatkan kiprah ibu di masyarakat, maka kegiatan ini belum berjalan dengan baik. Manfaatkan kegiatan ini untuk menggali pengetahun dan setelah itu kita terapkan di lingkungan kita masing-masing,” tandas Arini. (Hendri)

Related posts

Leave a Comment