Kapolda Banten: Sebentar Lagi Kita akan Hadapi Titik Rawan Pilkada

Laporan: Helmiyanto.

acara halal bihalal Polda Banten bersama jurnalisglobalaktual.com, Banten – Masa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) atau Pemilihan Gubernur (Pilgub) Banten dalam waktu dekat akan memasuki titik rawan konflik. Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Banten, Brigjen Pol Ahmad Dofiri mengatakan, titik rawan Pilkada akan mulai saat pendaftaran calon kepala daerah dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Titik rawan Pilkada itu saat pendaftaran calon dan masa-masa kampanye, untuk saat ini belum rawan,” papar Dofiri dalam acara halal bihalal Polda Banten bersama jurnalis yang bertugas di wilayah Polda Banten di aula Markas Polda Banten, Selasa (26/7).

Untuk menyikapi hal tersebut, menurut Dofiri, Polda Banten telah melakukan koordinasi secara rutin dengan KPU Provinsi Banten. Untuk mempermudah dan memperlancarkan koordinasi, KPU akan menyerahkan agenda tahapan-tahapan Pilkada yang akan berlangsung.

“Dengan itu, kita sudah tahu kapan, dimana, dan siapa saja yang terlibat pada tahapan Pilkada, dengan itu kita bisa mempersiapkan segala hal untuk menjaga Pilkada bisa sukses dan lancar,” papar Dofiri.
Terkait personel kepolisian yang akan diterjunkan, lanjut Dofiri, akan disesuaikan dengan tahapan Pilkada yang akan berlangsung. Jika potensi kerawanan cukup besar, Polda Banten akan menurunkan 50 persen personel. “Kita lihat, jika diperkirakan hanya seperempat personel yang dibutuhkan kita terjunkan, kalau sekiranya butuh setengah dari jumlah personel di Polda Banten, kita turunkan,” tambahnya.

Untuk membuat Pilkada berjalan lancar, kepolisian pun menurut Dofiri membutuhkan peran serta pers. Karena menurutnya, pers mempunyai pengaruh dalam membentuk kondisi masyarakat. “Bagaimana dalam memuat informasi yang bisa mendewasakan masyarakat Banten. Saya berharap mari kita bersama-sama menjadikan pers sebagai pilar demokrasi. Media tidak membuat sesuatu yang memanas-manasi,” ujarnya.
Tekanan Wartawan Lebih Tinggi dari Polisi

Dalam acara halal bihalal Polda Banten bersama jurnalis, Ahmad Dofiri mengungkapkan, bahwa tingkat tekanan profesi wartawan lebih tinggi dibandingkan polisi.

“Tingkat stres wartawan lebih tinggi dari polisi, polisi hanya sesekali waktu saja mendapatkan tekanan-tekanan dari pekerjaan, misalnya, ada tahanan kabur, atau bencana alam seperti di Carita dan Anyer, itu kan tidak tiap hari, sedangkan wartawan setiap hari mendapatkan tekanan dari pimpinan redaksinya untuk mendapatkan berita,” papar Dofiri.

Dofiri menilai tekanan pekerjaan wartawan lebih tinggi setelah dirinya melakukan kunjungan langsung ke beberapa kantor media di Provinsi Banten. “Pagi sampai sore keliling cari berita, nanti sore kumpul di kantor, nulis sampai malam, jam 10 bahkan lebih, dan itu dilakukan setiap hari, saya belum tentu kuat jadi wartawan,” ujarnya.

Terkait fungsi dan peran wartawan bersama medianya masing-masing, menurut Dofiri, dengan era media elektronik dan digital seperti sekarang ini, masyarakat sangat mudah mendapatkan informasi. Bahkan sebelum informasi tersebut diterima oleh pihak berwenang. “Dulu susah, media saja terbatas, sekarang, sebelum saya terima laporan kejadian, masyarakat sudah tahu lewat media,” tambahnya.

Dengan itu, menurut Dofiri, sinergitas antara media dan kepolisian perlu dijaga agar bersama-sama membuat Provinsi Banten lebih kondusif, aman, dan tentram. Melalui peran masing-masing, dengan kerjasama dan sinergitas yang baik, Dofiri yakin media dan kepolisian bisa mewujudkan hal tersebut.

Related posts

Leave a Comment