Permudah Nelayan, Dibuat Tambat Labuh Kapal Sementara

globalaktual.com, Kajen – Pelaksana proyek pembangunan tanggul penahan rob di pesisir Kabupaten Pekalongan telah membuat tambat labuh sementara untuk kapal di muara Sungai Tratebang dan Sungai Mrican paska ditutupnya kedua sungai besar tersebut. Untuk tambat labuh permanen direncanakan akan dibangun pada tahun 2020, dengan anggaran sekitar Rp 3 miliar lebih.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan, Sirhan, Jumat (24/5) kemarin, menerangkan, Sungai Tratebang dan Mrican selama ini dimanfaatkan nelayan di wilayah pesisir untuk menambatkan dan melabuhkan kapal milik mereka. Nelayan, kata dia, menambatkan kapalnya di dua aliran sungai itu yang lokasinya tidak jauh dari pemukiman warga.

Dengan ditutupnya kedua sungai itu, lanjut Sirhan, maka untuk mempermudah nelayan di pesisir yang biasanya menambatkan kapalnya di dua sungai itu dibuatkan tambat labuh sementara di sisi utara tanggul penahan rob. Pasalnya, kedua sungai tersebut, yakni Sungai Tratebang dan Sungai Mrican akan ditutup selamanya, agar air rob tidak masuk ke wilayah pemukiman melalui alur sungai itu.

Diterangkan, di Sungai Tratebang terdapat sekitar 102 kapal, sedangkan di Sungai Mrican ada sekitar 165 kapal. “Untuk mempermudah nelayan, dibuatkan tambat labuh sementara. Tambat labuh sementara ini diperkirakan bisa bertahan selama satu tahun, karena dibuat dari bambu. Untuk tambat labuh permanennya akan kita bangun di tahun 2020, dengan anggaran sekitar Rp 3 miliar,” terang dia.

Dikatakannya, penutupan kedua sungai itu sebelumnya sudah disosialisasikan kepada masyarakat dan nelayan setempat, baik dengan tatap muka secara langsung maupun melalui forum-forum tertentu.

Menurutnya, para nelayan memahami penutupan kedua sungai itu. Yang terpenting, ujar Sirhan, nelayan berharap agar ke depan rumah-rumah mereka dan pemukiman penduduk tidak lagi terserang rob.

“Untuk penutupan sungai sendiri membutuhkan waktu sekitar 15 hari untuk satu sungainya, karena ada proses pemasangan tiang pancang di sungai baru diuruk,” terang dia.

Seperti diberitakan, guna mengantisipasi rob yang masuk dari alur sungai, pelaksana proyek pembangunan tanggul penahan rob mulai menutup dua sungai besar di wilayah pesisir Kota Santri, yakni Sungai Tratebang dan Mrican. Sungai Tratebang mulai ditutup sejak Selasa (21/5), dan diperkirakan pekerjaan penutupan sungai ini akan membutuhkan waktu satu pekan. Untuk Sungai Mrican, penutupannya direncanakan akan dimulai pekan depan.

Seperti diketahui, rob masih meninggi di sejumlah desa di wilayah pesisir Kabupaten Pekalongan, bahkan rob yang biasanya menyerang wilayah di sebelah utara jalan Pantura saat ini sudah menyeberang hingga ke wilayah di sebelah selatan jalan Pantura, yakni di Desa Pacar, Kecamatan Tirto. Salah satu penyebab rob masih terjadi karena pembangunan tanggul penahan rob belum selesai 100 persen, dan masih ada beberapa sungai yang belum dibendung. Sehingga, air rob dari laut masuk ke pemukiman warga melalui alur sungai yang belum ditutup tersebut.

Genangan banjir rob saat bulan Ramadhan 2019 ini tak hanya terjadi di desa-desa di sebelah utara jalan Pantura Kabupaten Pekalongan. Banjir rob saat ini sudah menyeberang hingga ke wilayah di sebelah selatan jalan nasional tersebut. Salah satu wilayah terdampak rob adalah Desa Pacar, Kecamatan Tirto, yang selama ini aman dari rob. Rob masuk ke selatan jalur Pantura diduga akibat masuk melalui Sungai Meduri. Masyarakat di wilayah selatan pun kini mulai resah dengan masuknya rob ke wilayah pemukiman mereka.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi optimistis bencana banjir dan rob yang melanda wilayah pesisir Kabupaten Pekalongan akan bisa diatasi jika pembangunan tanggul penahan rob selesai pada akhir tahun 2019 ini. Rob yang diakibatkan limpasan tanggul Sungai Sengkarang dan paraphet yang bocor rencananya akan ditangani tersendiri pada tahun 2020. Bupati mengatakan, banjir rob di sejumlah desa di wilayah pesisir masih cukup tinggi karena pembangunan tanggul penahan rob belum selesai 100 persen. Menurutnya, masih ada beberapa sungai besar yang belum dibendung, sehingga air laut masuk ke wilayah pemukiman melalui alur sungai-sungai tersebut. (H3n)

Related posts

Leave a Comment