Pemimpin itu Amanah, Bukan Menebar Janji

Oleh: Abdullah Haris (Pemimpin Redaksi globalaktual.com)

Tidak terasa, dalam kurun waktu yang sudah dekat, masyarakat Pangandaran akan kembali melaksanakan pemilihan Kepala Desa (PILKADES), pemilihan Legislatif (PILEG) dan pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) untuk periode 5 tahun mendatang.

Tentunya menjadi harapan kita bersama, bahwa siapapun yang terpilih adalah orang yang benar-benar amanah dan memiliki jiwa sebagai negarawan dan ia bukan sekedar politisi. Karena jelas ada perbedaan antara negarawan dan politisi.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa seorang negarawan itu lebih berpikir tentang bagaimana nasib generasi mendatang, sementara politisi hanya berpikir bagaimana memenangkan pemilu yang akan datang.

Hal yang sesungguhnya paling penting adalah semoga pemilu demi pemilu, pilkada demi pilkada yang telah dan akan selalu kita laksanakan, jangan sampai menjadi pemicu perpecahan dan merusak tatanan persatuan dan persaudaraan di tengah-tengah masyarakat.

Karena kita dianjurkan untuk berpikir tentang pentingnya kebersamaan/persatuan, ketimbang hanya memikirkan kepentingan kelompok saja.

Kepemimpinan adalah posisinya sebagai pengganti Nabi dalam menjaga agama dan mengatur dunia. Mengangkat pemimpin umat hukumnya adalah wajib.

Tujuan politik dan mengangkat pemimpin adalah untuk menjaga kemurnian Agama dan mengatur dunia untuk kemaslahatan umat. Bukan sebaliknya, dimana politik dan perbedaan dijadikan sebagai sumber perpecahan.

Hari ini kita begitu sulit menemukan orang-orang yang memiliki jiwa kenegaraan, ada pendapat yang mengatakan mungkin karena usia dunia kita yang semakin menua, sehingga seolah-olah tak kuasa lagi melahirkan pemimpin-pemimpin besar (great leader) dan berintegritas seperti pada masa-masa silam.

Kenyataan, bahwa pemimpin sekarang lebih banyak menuntut (getting), bukan memberi (giving); lebih banyak menikmati, ketimbang melayani; dan lebih banyak mengumbar janji, dari pada memberi bukti, padahal ini tentunya sangat bertentangan dengan makna dan hakikat kepemimpinan itu sendiri.

Pemimpin adalah Pelayan Masyarakat atau orang yang dipimpinnya. Paham bagaimana cara mengatur pemerintahan dengan benar, mengetahui skala prioritas bagi negaranya, dan sebagainya.

Sebagai rakyat kita sering menuntut para pemimpin atau pejabat pemerintah agar menjadi pemimpin yang amanah, harus jujur, bijak dan adil, membela kepentingan rakyat, bertaqwa dan berbagai tuntutan lainnya.

Namun pernahkah kita berfikir sebaliknya, menuntut diri kita sendiri sebagai rakyat, jika kita menerapkan sistim keseimbangan pada saat kita menuntut pemimpin harus baik, kita juga menuntut diri kita sebagai rakyat untuk menjadi baik juga.

Ketika masyarakat memperbaiki dirinya, para pemimpin akan memperhatikan kepentingan mereka, sebagai ganjaran atas kebaikan yang mereka lakukan.

Sebaliknya ketika rakyat banyak melakukan kezaliman, kerusakan, maka pemimpin akan menunjukkan kepemimpinannya yang zalim di tengah-tengah mereka. Pemimpin yang menindas rakyat dan tidak memihak kepada rakyat, sebagai hukuman atas kezaliman yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.

Mengambil Kebijakan Untuk Kemaslahatan Umat, sehingga, setiap prilaku dan kebijakan pemimpin wajib diorientasikan untuk kemashlahatan bangsa dan masyarakat, bukan kemashlahatan diri maupun kelompoknya semata.

Posisi seorang pemimpin atas rakyatnya adalah seperti posisi seorang wali terhadap anak yatim.

Hal ini berarti bahwa kebijakan seorang pemimpin harus benar-benar pro rakyat, bertujuan untuk kemajuan dan kemakmuran rakyat. Hal ini juga berarti pemimpin harus benar-benar peduli terhadap hal-hal yang bisa merusak masyarakat, baik secara aqidah, akhlak, ekonomi, sosial, dan sisi-sisi lainnya.

Peduli, Bekerja, dan Memiliki Rasa Kasih Sayang, Sikap-sikap yang mulia ini adalah sifat tauladan dari kepemimpinannya.

Ada tiga sikap moral kepemimpinan Rasulullah Saw. yang perlu dicermati dan diteladani oleh setiap pemimpin.

Pertama, ‘azizun alaihi ma ‘anittum (artinya, amat berat dirasakan oleh Nabi apa yang menjadi beban penderitaan umat yang dipimpinnya). Dalam istilah lain, sikap ini disebut sense of crisis, yaitu rasa peka atas kesulitan rakyat yang ditunjukkan dengan kemampuan berempati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung. Secara kejiwaan, empati berarti kemampuan memahami dan merasakan kesulitan orang lain. Rasa empati pada gilirannya akan mendorong lahirnya sikap simpati, yaitu ketulusan memberi bantuan, baik moral maupun material, untuk meringankan penderitaan orang yang mengalami kesulitan.

Kedua, harishun `alaikum (artinya, Nabi sangat mendambakan agar umat yang dipimpinnya benar-benar memiliki iman yang kuat dan keselamatan dunia dan akhirat). Dalam istilah lain, sikap ini disebut sense of achievement, yaitu semangat dan perjuangan yang sungguh-sungguh, agar seluruh masyarakat yang dipimpinannya dapat meraih kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan.

Ketiga, ra’ufun rahim (artinya, sikap mengasihi dan menyayangi). Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demikian pula Rasulullah SAW, juga merupakan manusia yang sangat pengasih dan penyayang. Maka sudah seharusnya bagi setiap mukmin, terutama mereka yang dipercaya menjadi pemimpin, meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul-Nya itu dengan cara mencintai dan mengasihi orang lain, khususnya masyarakat yang dipimpinnya.

Karena kasih sayang (rahmat) adalah pangkal dari segala kebaikan. Tanpa kasih sayang, sangat sulit dibayangkan seseorang bisa berbuat baik.

Ketiga sikap moral di atas (sense of crisis, sense of achievement, dan kasih sayang) adalah wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Karena tanpa ketiga sikap moral tersebut, seorang pemimpin bisa dipastikan tidak akan bekerja untuk kepentingan rakyatnya, melainkan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, keluarga, dan kelompoknya semata.

Yang terakhir, ingatlah, setiap kepemimpinan adalah amanah. Dan setiap amanah pasti akan diminta pertanggungjawaban di dunia dan di hadapan Allah Swt, kelak di akhirat.

admin

Situs Berita Teraktual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.